![]() |
| Ketika Gerak Silek Menjadi Musik di Panggung Taman Ismail Marzuki (Spesial) |
INDOSATU.ID - Bagaimana jika sebuah komposisi musik tidak dimulai dari nada, melainkan dari gerakan tubuh?.
Pertanyaan itu hadir dalam pertunjukan Ketubuhan Silek: Formulasi Sistem Ketubuhan Silek Menjadi Sistem Komposisi Musik karya M. Hario Efenur atau Uncu di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (23/9/2026) malam.
Dalam pertunjukan sekitar 45 menit tersebut, hentakan kaki, gesekan kain, tepukan tangan ke tubuh, benturan, lompatan, hingga tarikan napas pesilat menjadi bagian dari materi bunyi.
Tidak ada pemisahan tegas antara gerakan silek dan musik karena tindakan tubuh itu sendiri ditempatkan sebagai bagian dari komposisi.
Karya tersebut menjadi bagian dari Pekan Komponis Indonesia (PKIna) 2026 yang berlangsung pada 23 - 27 September di Taman Ismail Marzuki.
Melalui karya ini, Uncu membawa penonton melihat silek tradisi bela diri Minangkabau, bukan hanya sebagai rangkaian jurus, tetapi juga sebagai sumber penciptaan musik. Yang dikomposisi bukan nada. Tapi Tindakan.
Kalimat Uncu dalam sesi diskusi seusai pertunjukan itu menjadi kunci untuk memahami karya yang baru saja disaksikan penonton.
Penonton Mengelilingi Arena
Malam itu, suasana pertunjukan berbeda dari konser musik pada umumnya.
Di tengah panggung terdapat matras pencak silat berukuran sekitar 4 × 4,5 meter. Penonton duduk bersila mengelilingi arena dalam dua hingga tiga baris pada setiap sisi. Jarak barisan terdepan dengan matras hanya beberapa sentimeter.
Empat mikrofon bertiang pendek ditempatkan di setiap sudut arena dan diarahkan ke permukaan matras. Panggung kemudian digelapkan. Cahaya hanya jatuh dari atas, menerangi arena.
Tiga orang yang menjadi pusat pertunjukan awalnya duduk di antara penonton barisan depan. Ketika pertunjukan dimulai, mereka masuk ke arena, menyalami sejumlah penonton terdekat, lalu mengambil posisi kuda-kuda.
Mereka adalah M. Hario Efenur atau Uncu, Emri, dan Hamdan Tawil atau Da At. Gerakan pun dimulai.
Serangan dan tangkisan berganti dengan tangkapan, kuncian, jatuhan, dan lompatan. Tubuh menghantam matras.
Kaki menghentak. Kain bergesekan. Tangan menepuk tubuh. Napas para pesilat terdengar semakin berat.
Sesekali tubuh seorang pesilat terhempas hanya beberapa sentimeter dari penonton.
Kedekatan tersebut membuat penonton bukan hanya menyaksikan gerakan, tetapi juga merasakan suara dan energi fisik yang muncul dari arena.
Ketika Silek Menghasilkan Bunyi
Silek merupakan istilah dalam tradisi Minangkabau untuk seni bela diri yang secara umum dikenal sebagai silat.
Tradisi pencak silat Indonesia sendiri telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2019.
Dalam karya Uncu, silek menjadi titik berangkat penciptaan musik.
Pertunjukan dibagi dalam tiga pertemuan: Emri dengan Da At, Emri dengan Uncu, kemudian Da At dengan Uncu.
Emri merupakan seniman tari sekaligus pengajar di ISI Padangpanjang. Sementara Da At merupakan alumni ISI Padangpanjang dan pembuat alat musik tradisional Minangkabau. Keduanya telah lama menekuni tradisi silek.
Pada pertemuan pertama, gerakan mereka masih mudah dikenali sebagai pertarungan. Namun bersamaan dengan gerakan itu, terdengar bunyi yang tidak berasal dari alat musik konvensional.
Hentakan kaki, tubuh yang beradu, gesekan kain, tepukan tangan, serta suara jatuh dan melompat membentuk lapisan bunyi tersendiri.
Semakin pertunjukan berjalan, suara-suara tersebut semakin sulit dianggap hanya sebagai akibat dari gerakan. Bunyi mulai terdengar sebagai bagian penting dari pengalaman musikal.
Pada pertemuan kedua, pola tersebut kembali muncul. Gerakan Emri dan Uncu berubah mengikuti respons satu sama lain. Satu tindakan memicu tindakan berikutnya, dan setiap tindakan membawa konsekuensi bunyinya sendiri.
Tidak Ada Lawan, Bunyi Tetap Berjalan
Menjelang bagian terakhir, Da At tampil seorang diri selama beberapa menit. Uncu tetap berada di arena tanpa bergerak.
Da At berganti jurus, mengubah langkah, berpindah posisi, melompat, lalu menepuk tubuh dan celana sileknya.
Tidak ada lawan yang harus direspons. Namun bunyi tetap hadir.
Langkah kaki, gesekan kain, tepukan tangan, hentakan, dan napas membentuk rangkaian suara yang terus bergerak mengikuti tubuh.
Pada titik inilah gagasan Uncu menjadi semakin jelas: yang sedang disusun bukan sekadar bunyi yang dihasilkan tubuh, melainkan tindakan yang menghasilkan bunyi.
Gerakan yang telah dilatih dapat menjadi bagian yang tetap. Sementara respons terhadap lawan membuka ruang perubahan ketika pertunjukan berlangsung.
Serangan menjadi pemicu. Tangkapan dan pelepasan membentuk hubungan antartindakan. Perubahan posisi, kecepatan, tenaga, dan jarak menghasilkan perubahan suara.
Dengan pendekatan itu, silek tidak ditempatkan sebagai pertunjukan yang kemudian diberi musik. Gerak silek itu sendiri menjadi bagian dari komposisi.
Tubuh sebagai Ruang Komposisi
Uncu menyebut pendekatannya sebagai Musik Konsekuensial.
Gagasannya berangkat dari sistem ketubuhan silek yang dipahami bukan hanya sebagai teknik gerak, tetapi sebagai pengetahuan yang bekerja melalui tubuh, termasuk prinsip, respons, dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Tubuh, dengan demikian, bukan sekadar alat untuk memainkan komposisi yang sudah selesai dibuat. Tubuh menjadi tempat komposisi itu berlangsung.
Gagasan tersebut merupakan bagian dari perjalanan artistik Uncu bersama Candasuara, kelompok yang didirikannya pada 2016 di Sumatera Barat. Candasuara memusatkan penciptaannya pada seni ketubuhan Minangkabau, khususnya silek dan randai, sebagai sumber penciptaan musik.
Ketertarikan Uncu terhadap musik dan silek telah berkembang sejak 2003. Ia mulai memainkan sejumlah alat musik tradisional Minangkabau seperti gandang tambua, talempong, dan rabano, sekaligus mempelajari silek.
Eksplorasi hubungan tubuh, bunyi, dan teknologi kemudian berkembang dalam sejumlah kolaborasinya. Salah satunya adalah Panjago, karya bersama Rani Jambak dan Prof. Scott Wilson dari University of Birmingham.
Dalam karya tersebut, gerak silek ditangkap melalui kamera dan sensor gerak untuk kemudian diolah menjadi body sound yang dipertemukan dengan musik elektronik dan live coding. Visualnya dikerjakan oleh Jean David Caillouet.
Uncu dan Rani juga mengelola Rumah Gagas, laboratorium sekaligus ruang kreatif untuk pertunjukan kontemporer dan eksperimental.
Saat ini Uncu tengah menyelesaikan pendidikan doktoral di ISI Surakarta. Karya yang dipentaskan dalam PKIna 2026 berkaitan dengan proses penelitian dan penciptaan tersebut.
Dari Silek ke Pertanyaan tentang Musik
Gagasan Uncu kemudian membawa pertunjukan itu ke pertanyaan yang lebih luas: apa yang membuat sesuatu dapat disebut musik?.
Pertanyaan semacam itu telah lama menjadi bagian dari perkembangan musik eksperimental. Salah satu karya yang kerap dibicarakan adalah 4'33" karya John Cage, ketika pianis David Tudor duduk di depan piano tanpa memainkan nada.
Suara-suara lingkungan yang muncul selama pertunjukan justru menjadi bagian dari pengalaman mendengarkan.
Jika Cage menggeser perhatian pendengar melalui keheningan, Uncu melakukannya melalui tubuh.
Baca Juga: Miris!! Anak-anak di Labuhanbatu ini Berjalan di Atas Lumpur Demi Menuntut Ilmu ke Sekolah
Suara yang biasanya dianggap sebagai konsekuensi dari gerakan hentakan kaki, gesekan kain, tepukan tubuh, napas, dan benturan ditempatkan sebagai materi musikal.
Pendekatan tersebut juga bersinggungan dengan gagasan soundscape R. Murray Schafer tentang lingkungan sebagai lanskap bunyi. Tubuh dapat dilihat sebagai ruang kecil yang terus menghasilkan suara melalui gerak dan aktivitasnya.
Praktik body music yang dikembangkan Keith Terry juga menggunakan tubuh sebagai sumber bunyi. Namun, pendekatan Uncu memberi tekanan berbeda: bukan semata-mata pola suara tubuh yang dikomposisikan, melainkan tindakan yang menghasilkan suara tersebut, dengan tindakan itu bersumber dari pengetahuan silek.
Penonton Tak Lagi Sekadar Melihat
Seorang penonton bahkan memilih memejamkan mata dalam sesi diskusi seusai pertunjukan agar dapat berkonsentrasi mendengarkan.
Ketika penglihatan disisihkan, suara gesekan, hentakan, napas, dan benturan tubuh terasa memiliki susunan tersendiri.
Jarak penonton dengan arena membuat pengalaman itu semakin kuat.
Ketika tubuh pesilat terlempar hanya beberapa sentimeter dari barisan penonton atau suara benturan tiba-tiba terdengar keras, batas antara penonton dan pertunjukan terasa semakin tipis.
Penonton tidak sepenuhnya berada dalam posisi pengamat yang berjarak.
Jarak, suara, gerakan, dan ketegangan tubuh ikut membentuk pengalaman pertunjukan.
Kembali ke Arena
Pada bagian terakhir, Da At berhadapan dengan Uncu.
Kali ini Da At membawa kuku alang, senjata tradisional berbentuk belati yang tampak mengilap di bawah cahaya lampu. Uncu berdiri tanpa senjata. Ketegangan silek kembali terasa.
Namun setelah menyaksikan dua bagian sebelumnya, perhatian penonton telah bergeser. Yang terdengar bukan semata-mata suara pertarungan.
Ada langkah, napas, gesekan kain, benturan, jeda, respons, dan perubahan tenaga. Semua lahir dari tindakan tubuh yang sejak awal telah ditempatkan sebagai bagian dari sistem komposisi.
Di arena itu, silek akhirnya tidak hanya terlihat sebagai tradisi yang diwariskan melalui tubuh.
Ia juga terdengar. Dan melalui bunyi-bunyi yang lahir dari gerak tersebut, Uncu mengajak penonton mendengarkan tubuh dengan cara yang berbeda: bukan sekadar sebagai pelaku gerakan, tetapi sebagai sumber dan ruang tempat musik diciptakan.
Penulis artikel: Bachtiar Djanan
Editor: MSN Limbong






Tidak ada komentar:
Posting Komentar