![]() |
| Instalasi PLTS Hybrid Off-Grid Xurya di Area Pertambangan PT Central Omega Resources, Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Editor foto by Indosatu.id) |
INDOSATU.ID - Pemerintah menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) dalam tiga tahun ke depan untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Namun, di balik ambisi tersebut, terdapat tantangan besar yang perlu diperhatikan, mulai dari pemeliharaan pembangkit, pemantauan kinerja, hingga kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk memastikan PLTS beroperasi secara optimal dalam jangka panjang.
Pembangunan PLTS dalam skala besar tidak cukup hanya berfokus pada kecepatan instalasi dan kapasitas yang berhasil dibangun.
Keandalan pembangkit setelah beroperasi menjadi faktor penting agar investasi energi surya dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Dengan masa produktif yang dapat melampaui 20 tahun, setiap sistem PLTS membutuhkan pemantauan berkala, pemeliharaan terencana, serta penanganan gangguan secara cepat.
Tantangan ini semakin kompleks ketika pembangkit tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan kondisi geografis dan karakteristik operasional yang berbeda.
"Ketika kita berbicara tentang 100 GWp PLTS, kita juga perlu memikirkan bagaimana seluruh kapasitas ini bisa terus beroperasi setiap hari. Sebab, kemandirian energi bukan hanya tentang membangun pembangkit, tetapi juga memastikan PLTS tetap berfungsi optimal sepanjang masa produktifnya, tutur Co-Founder sekaligus Director of Technology Xurya, Edwin Widjonarko, dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).
Menurut Edwin, pengelolaan PLTS dalam skala besar membutuhkan sistem pemantauan yang mampu mendeteksi perubahan kinerja, mempercepat respons terhadap gangguan, dan memungkinkan pengelolaan aset dari jarak jauh meskipun pembangkit berada di lokasi terpencil.
Pengoperasian PLTS Lebih dari Sekadar Membersihkan Panel
Xurya, perusahaan energi terbarukan yang memelopori metode sewa PLTS di Indonesia, mengaku telah memiliki pengalaman mengoperasikan lebih dari 300 proyek PLTS di berbagai wilayah Tanah Air.
Proyek-proyek tersebut mencakup PLTS yang dipasang di atap bangunan maupun lahan terbuka, baik di kawasan perkotaan maupun daerah terpencil.
Pengalaman tersebut menjadi bekal perusahaan dalam menghadapi kebutuhan operasional dan pemeliharaan atau operation and maintenance (O&M) PLTS pada skala yang lebih besar.
Edwin menjelaskan, pemeliharaan PLTS tidak hanya berkaitan dengan pembersihan modul surya. Operator juga perlu memantau produksi listrik harian hingga tingkat larik panel, memastikan sensor berfungsi dan terkalibrasi dengan baik, memeriksa kondisi lahan dan saluran air, serta menangani gangguan yang berpotensi menurunkan kinerja pembangkit.
Analisis data juga diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab penurunan produksi listrik. Penurunan tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, performa sistem, maupun kesalahan pengukuran.
Karena itu, pengelolaan PLTS membutuhkan pendekatan berbasis data agar gangguan dapat diketahui dan ditangani secara tepat. Tanpa pemantauan yang memadai, penurunan kinerja pembangkit berisiko tidak terdeteksi secara cepat sehingga memengaruhi produksi listrik.
Teknologi Industri 4.0 Percepat Penanganan Gangguan
Untuk mendukung pengelolaan ratusan sistem PLTS, Xurya mengadopsi teknologi Industri 4.0 dengan mengacu pada standar internasional IEC (International Electrotechnical Commission).
Pemantauan dilakukan secara menyeluruh dan waktu nyata (real-time), mencakup aspek keselamatan, konektivitas jaringan, performa sistem, telemetri, hingga kondisi cuaca yang memengaruhi produksi listrik.
Penerapan teknologi tersebut memungkinkan operator mengawasi kondisi pembangkit secara lebih efisien sekaligus membantu mengidentifikasi potensi gangguan tanpa harus selalu mendatangi lokasi.
Salah satu contoh penerapannya terdapat pada PLTS hibrida off-grid milik PT Central Omega Resources Tbk di area pertambangan Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Sistem tersebut memiliki kapasitas PLTS sebesar 256 kilowatt-peak (kWp), dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 251 kilowatt-hour (kWh), dan mulai beroperasi pada September 2026.
Berbeda dengan PLTS yang terhubung ke jaringan listrik, sistem hibrida off-grid beroperasi tanpa bergantung pada jaringan listrik utama.
Pengelolaannya perlu mempertimbangkan integrasi panel surya, baterai, dan sumber listrik lain, seperti generator diesel, untuk menjaga keandalan pasokan energi di lokasi operasional.
Menurut Xurya, teknologi Industri 4.0 memungkinkan tim ahli memantau kinerja dan mengoperasikan sistem tersebut dari jarak jauh.
Otomatisasi pemrosesan data juga disebut mampu memangkas waktu analisis masalah hingga lebih dari 90 persen, sehingga proses identifikasi dan penanganan gangguan dapat berlangsung lebih cepat.
Meski demikian, penerapan teknologi pada satu sistem PLTS berbeda dengan pengelolaan pembangkit berkapasitas total 100 GWp.
Pada skala tersebut, ribuan sistem berpotensi tersebar di berbagai lokasi dengan kondisi operasional yang beragam.
Setiap sistem juga melibatkan banyak komponen yang saling terintegrasi, mulai dari modul surya, inverter, transformator, hingga baterai.
Kompleksitas ini membuat teknologi pemantauan dan analisis data menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pembangkit sepanjang masa operasinya.
Kebutuhan Tenaga Ahli Energi Surya Meningkat
Selain teknologi, kesiapan tenaga kerja menjadi faktor lain yang menentukan keberhasilan pengelolaan PLTS dalam skala besar.
Menurut Edwin, operasional pembangkit surya membutuhkan kombinasi kompetensi yang semakin beragam, termasuk teknik ketenagalistrikan (power engineering), ilmu data (data science), analisis jaringan komunikasi, pemrograman, pemecahan masalah, serta pengelolaan aset dan inventaris.
Kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan di sektor energi surya tidak hanya terbatas pada pemasangan panel dan pekerjaan teknis di lapangan.
Pengoperasian pembangkit dalam jangka panjang juga memerlukan tenaga profesional yang mampu menganalisis data, mengawasi performa sistem, dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi operasional.
"Kompetensi yang dibutuhkan semakin beragam dan menuntut keterampilan analitis yang lebih kuat, bukan semata-mata hard skill yang selama ini banyak ditemukan pada teknisi lapangan," ujar Edwin.
Ia menilai, target pembangunan 100 GWp PLTS dapat membuka peluang peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal sekaligus menciptakan lapangan kerja profesional di sektor energi terbarukan.
Pasalnya, instalasi pembangkit umumnya berlangsung dalam hitungan bulan, sedangkan pengoperasian dan pemeliharaannya dapat berjalan selama lebih dari dua dekade.
Artinya, kebutuhan tenaga kerja tidak berhenti ketika proyek pembangunan selesai, tetapi berlanjut sepanjang masa produktif pembangkit.
Solar Academy Indonesia Dorong Pengembangan SDM
Untuk mendukung pengembangan kompetensi tenaga kerja, Xurya menghadirkan Solar Academy Indonesia (SAI), sebuah program yang berfokus pada peningkatan pengetahuan dan kapasitas SDM di industri energi surya.
Melalui program tersebut, Xurya berbagi pengetahuan dan praktik industri guna memperluas pemahaman mengenai energi surya sekaligus mendorong tenaga kerja lokal mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Pengembangan SDM dinilai penting agar perluasan kapasitas PLTS dapat diimbangi dengan ketersediaan tenaga ahli yang mampu mengoperasikan, memelihara, dan mengelola aset pembangkit secara andal.
Tanpa dukungan tenaga kerja yang memadai, peningkatan kapasitas pembangkit berpotensi menghadapi kendala dalam pemeliharaan, pengawasan performa, dan penanganan gangguan. Sebaliknya, kesiapan SDM dapat membantu menjaga keberlanjutan investasi serta memperluas manfaat ekonomi dari transisi energi.
Edwin berharap program 100 GWp PLTS tidak hanya memperkuat kemandirian energi Indonesia, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Saya yakin, jika dikelola dengan baik, program 100 GWp ini dapat menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal Indonesia. Transisi energi bukan hanya mendukung kemandirian energi, tetapi juga membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan," ungkapnya.
Dengan demikian, keberhasilan target 100 GWp PLTS tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membangun pembangkit dalam waktu singkat.
Keandalan operasional, pemanfaatan teknologi, serta kesiapan tenaga kerja akan menjadi bagian penting untuk memastikan energi surya dapat memberikan manfaat bagi Indonesia selama puluhan tahun mendatang. (Red)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar