-->
  • Jelajahi

    Copyright © Media Indosatu - Menuju Indonesia Maju
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Ketika Cerita Lama Mencari Pembaca Baru, Festival Ngobrol Buku 2026

    Redaksi
    Sabtu, 12:00 WIB
    Banner IDwebhost

    Menggali Folklor Sumut bersama Koko Hendri Lubis (dokumentasi)

    INDOSATU.ID - Untuk menghidupkan kembali cerita rakyat Sumatera Utara (Sumut) dilakukan dengan cara mempertemukannya dengan generasi penulis baru. Sebanyak 45 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum mengikuti lokakarya penulisan cerpen "Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern".

    Kegiatan ini digelar dalam rangkaian Festival Ngobrol Buku 2026 dalam bentuk lokakarya yang diselenggarakan Komunitas Ngobrol Buku Indonesia yang berlangsung pada 28 - 30 Agustus 2026 di Ruang Galeri Lantai 2, Roha Cafe, Jalan Abdullah Lubis, Medan.

    Dalam kesempatan itu, para peserta mengolah cerita rakyat Sumut menjadi cerpen dengan bimbingan sastrawan dan penulis nasional Yusi Avianto Pareanom dan Koko Hendri Lubis.


    Alda Muhsi, selaku Ketua Panitia Pelaksana Festival Ngobrol Buku 2026, mengatakan bahwa panitia menerima 100 naskah cerpen selama masa pendaftaran pada 1 - 18 Agustus 2026. Usai melalui proses seleksi, sebanyak 45 peserta ditetapkan mengikuti lokakarya.

    "Kami menerima total 100 naskah cerpen calon peserta selama masa pengumpulan naskah pada 1–18 Agustus 2026. Tim panitia kemudian menyeleksi naskah tersebut dan menetapkan 45 orang peserta untuk mengikuti kegiatan lokakarya," tutur Alda.

    Para peserta berasal dari berbagai latar belakang, 15 siswa merupakan pelajar SMA dan madrasah di Sumut, 15 mahasiswa berasal dari Uninimed, UINSU, UISU, dan Universitas HKBP Nommensen (UHN), sedangkan 15 lainnya merupakan peserta umum.

    Kelompok terakhir mencakup guru, pegawai, pengemudi ojek daring, dan pekerja lepas dari sejumlah daerah, antara lain Medan, Tanjungbalai, Pematangsiantar, dan Tapanuli Utara.

    Menjaga Folklor Tetap Hidup

    Kegiatan tersebut berangkat dari persoalan yang lebih luas: bagaimana membuat cerita yang lahir dari dunia masa lalu tetap memiliki arti bagi pembaca masa kini.

    Folklor tidak hanya berupa cerita rakyat. Di dalamnya terdapat berbagai bentuk tradisi dan ekspresi yang diwariskan antargenerasi, seperti legenda, mitos, peribahasa, nyanyian, ritual, pengetahuan, serta praktik budaya.

    UNESCO memandang tradisi lisan sebagai sarana untuk meneruskan pengetahuan, nilai sosial-budaya, dan ingatan kolektif. Karena diwariskan melalui proses penuturan, tradisi tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ia dapat berubah mengikuti penutur dan konteks sosialnya.


    Kerangka tersebut menempatkan warisan budaya takbenda sebagai living heritage atau warisan yang terus hidup dan diciptakan kembali ketika berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Narasumber Koko Hendri Lubis merumuskannya secara sederhana. Menurut dia, cerita rakyat merupakan sarana untuk mengingat kembali pengalaman dan kenangan masa lalu yang mulai terlupakan.

    "Cerita rakyat merupakan wahana untuk mengingatkan kembali kenangan masa lalu yang selama ini terlupakan," ujarnya.

    Di dalam cerita-cerita tersebut tersimpan pandangan masyarakat mengenai alam, keluarga, kekuasaan, keberanian, serta batas antara baik dan buruk. Ketika rantai pewarisan terputus, yang hilang bukan semata-mata alur sebuah cerita, tetapi juga salah satu cara masyarakat mengingat dan memahami dirinya.

    Tidak Perlu Membekukan Cerita Lama

    Persoalan pewarisan menjadi semakin penting ketika generasi muda hidup dalam lingkungan media yang berbeda jauh dari generasi sebelumnya. Cerita rakyat kini harus bersaing dengan film, video pendek, gim, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan serta narasi digital.

    Oleh karena itu, persoalannya bukan semata-mata mengapa generasi muda semakin jarang mengenal folklor. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah cerita lama masih memiliki sesuatu untuk disampaikan kepada mereka.

    Pada konteks warisan budaya takbenda, pelestarian tidak selalu berarti mempertahankan bentuk masa lalu secara utuh. Yang lebih penting adalah menjaga keberlangsungannya sebagai proses pewarisan dan penciptaan kembali.


    Mengubah cerita rakyat menjadi cerpen, karena itu, tidak dengan sendirinya berarti meninggalkan tradisi.

    Perubahan bentuk justru dapat menjadi salah satu cara untuk memastikan cerita tersebut tetap dibaca dan dibicarakan.

    Prinsip itulah yang diterapkan dalam lokakarya Festival Ngobrol Buku. Peserta mempelajari teknik penulisan cerpen berbasis folklor Sumatera Utara sekaligus dilatih menggali nilai-nilai lokal untuk diadaptasi menjadi karya yang dapat diterima pembaca masa kini.


    Menurut Koko, Sumatera Utara memiliki kekayaan cerita rakyat yang berasal dari berbagai kelompok etnis.

    "Sumatera Utara memiliki sangat banyak cerita rakyat yang bervariasi," imbuhnya.

    Ia antara lain menyebut Merak Jingga, Palu Hantu, dan Panglima Berbulu Besi. Dalam proses adaptasi, kata Koko, unsur dasar yang membentuk identitas cerita asal tetap perlu diperhatikan.

    Di sinilah proses kreatif berlangsung. Penulis tidak hanya menentukan bagian mana dari cerita lama yang harus dipertahankan, tetapi juga memilih unsur yang perlu diubah agar cerita tersebut kembali relevan dan mampu berbicara kepada pembaca masa kini.

    Dari Warisan Budaya ke Industri Kreatif

    Selain menjadi sarana pewarisan ingatan, folklor juga memiliki potensi sebagai bahan baku industri kreatif. Cerita dan mitologi lama dapat dikembangkan menjadi novel, komik, film, serial televisi, animasi, gim, web series, maupun berbagai bentuk konten digital.

    Fenomena tersebut terlihat dalam sejumlah produksi budaya populer di berbagai negara.

    Film animasi Ne Zha 2, misalnya, mengangkat tokoh mitologis China ke dalam medium animasi modern dan mencatat pendapatan sekitar US$2,19 miliar secara global, termasuk sekitar US$2,13 miliar dari pasar China.

    Contoh lain datang dari Beauty and the Beast versi 2017 yang berakar pada dongeng Eropa. Film tersebut menghasilkan sekitar US$1,27 miliar di seluruh dunia.


    Penelitian National Bureau of Economic Research terhadap ribuan film serta katalog mitos, legenda, dan cerita rakyat juga menunjukkan adanya hubungan antara kedekatan sebuah film dengan folklor lokal dan performanya di pasar tersebut.

    Film yang lebih dekat dengan folklor lokal cenderung lebih mungkin ditayangkan dan memperoleh pendapatan lebih tinggi di pasar bersangkutan.

    Folklor dengan demikian tidak hanya dapat dipandang sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber bahan kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

    Namun, ketika cerita sebuah komunitas dikembangkan menjadi komoditas, muncul persoalan lain: siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang memiliki kendali atas proses pengolahannya.

    Sumatera Utara dan Rantai Pewarisan

    Sumatera Utara memiliki tradisi lisan yang berasal dari beragam komunitas budaya. Basis data Badan Bahasa, misalnya, mencatat berbagai bentuk sastra lisan dari wilayah tersebut, termasuk Dampol Siburuk dari masyarakat Batak Toba.

    Namun, kekayaan cerita tidak otomatis menjamin keberlangsungannya.

    Sebuah cerita dapat tersimpan di dalam buku, dokumen, atau arsip, tetapi kehilangan kehidupan apabila tidak lagi dituturkan, dibaca, ditafsirkan, dan diciptakan kembali.

    Karena itu, persoalan utama folklor Sumatera Utara bukan sekadar apakah cerita-cerita tersebut masih ada, melainkan apakah cerita itu masih hidup dalam ingatan generasi berikutnya.


    Festival Ngobrol Buku berupaya memperpanjang rantai pewarisan tersebut melalui karya sastra. Karya para peserta lokakarya akan diterbitkan dalam tiga antologi berdasarkan kategori peserta.

    Masing-masing antologi direncanakan terbit sebanyak 100 eksemplar dan akan dibicarakan dalam diskusi sastra pada September 2026.

    Kegiatan tersebut didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra.


    Ketua Komunitas Ngobrol Buku, Eka Dalanta, mengatakan festival tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya karya sastra yang berangkat dari budaya lokal sekaligus meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap warisan budaya daerah.

    "Kita berharap festival ini dapat mendorong lahirnya karya-karya cerpen berbasis budaya lokal yang layak dipublikasikan, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya daerah," ungkapnya.

    Pada akhirnya, persoalan folklor bukan sekadar menyelamatkan cerita dari masa lalu. Tantangannya adalah memastikan cerita tersebut tetap memiliki ruang dalam kehidupan hari ini.

    Sebab, sebuah cerita tidak bertahan hanya karena bentuk lamanya disimpan. Ia bertahan karena selalu ada generasi baru yang merasa perlu membacanya, menafsirkannya, dan menceritakannya kembali.

    Penulis berita: Bachtiar Djanan
    Editor: Manaor Limbong
    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Terkini

    close
    Banner iklan disini