![]() |
| Editor by Tim Media Indosatu |
INDOSATU.ID - Inisiator Konser Perdamaian Dunia (Konperda), Sutrisno Pangaribuan, mengajak umat Kristen Indonesia bersikap proaktif, bukan reaktif, dalam menanggapi polemik yang muncul akibat potongan video ceramah Muhammad Jusuf Kalla yang beredar luas di masyarakat.
Mau tau informasi tentang kampus di Kota Medan? cek di sini Medankampus.com
Sutrisno menyampaikan pandangan tersebut dalam pernyataan sikapnya di Medan, Sabtu (12/4/2026).
Ia menegaskan posisinya sebagai warga negara pemeluk Kristen Protestan, jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), mantan Ketua BPC GMKI Medan 2003-2005, dan mantan Ketua Bidang Organisasi dan Hukum PP GMKI 2008-2010.
Menurutnya, potongan video ceramah Jusuf Kalla yang beredar bukan merupakan produk jurnalistik dan tidak memenuhi ketentuan penyebarluasan video ceramah di ruang publik. Video tersebut justru dijadikan bahan yang menggerakkan reaksi berbagai pihak dan menimbulkan keriuhan di tengah masyarakat.
Terkait hal itu, Sutrisno menyampaikan 10 poin sikap:
Pertama, video ceramah Jusuf Kalla harus dilihat secara utuh tanpa sentimen, emosi, kebencian, dan amarah, serta tidak ditarik sebagai bahan pertentangan SARA.
Kedua, Jusuf Kalla telah menjelaskan bahwa konteks ceramah tersebut terkait konflik berbau SARA di Maluku, Maluku Utara, dan Palu. Semua pihak diminta memahami konteks itu secara jernih.
Ketiga, Sutrisno menilai tidak terdapat materi yang menista ajaran Kristen dalam potongan video. Jusuf Kalla, kata dia, menjelaskan bagaimana warga berbeda agama saling membunuh pada konflik Ambon dan Poso, dengan korban dari kedua belah pihak.
Keempat, reaksi dari ormas, OKP, komunitas, maupun perorangan yang mengatasnamakan umat Kristen Indonesia terhadap pernyataan Jusuf Kalla tidak mewakili suara dan aspirasi umat Kristen Indonesia secara keseluruhan.
Cek tempat bimbel di Ruang Generasi
Kelima, ia menegaskan bahwa suara umat Kristen secara umum diwakili oleh PGI, PGPI, dan umat Katolik diwakili KWI. Reaksi di luar lembaga itu adalah reaksi biasa yang tidak mewakili suara umat Kristen Indonesia.
Keenam, jika ada kekeliruan dalam materi ceramah, Sutrisno berharap Jusuf Kalla dapat segera bertemu dengan PGI, PGPI, dan KWI agar polemik diakhiri.
Ketujuh, ia mengingatkan bahwa inti ajaran Kristus adalah kasih kepada Tuhan dan sesama.
"Jika meneladani Kristus secara totalitas dipastikan tidak ada umat Kristen yang marah, emosi, bahkan melaporkan Muhammad Jusuf Kalla kepada Polri. Umat Kristen Indonesia itu juru damai, suka menebar kasih, tidak suka lapor-lapor," ujarnya.
Kedelapan, Sutrisno menyebut dunia yang cemas membutuhkan kedamaian, sehingga sesama warga Indonesia harus saling memahami. Jika ada pernyataan Jusuf Kalla yang kurang tepat terhadap ajaran Kristen, dapat diluruskan oleh PGI, PGPI, dan KWI.
Kesembilan, ia mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia baru saja merayakan Nyepi, Idulfitri, dan Paskah. Kasih persaudaraan dan perdamaian, menurutnya, menjadi puncak dari semua perayaan tersebut.
Kesepuluh, Sutrisno menilai Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 berusia 83 tahun tidak mungkin berkeinginan menciptakan kegaduhan publik.
Ia meminta kelompok masyarakat tidak reaktif dengan penafsiran yang dapat memperbesar polemik.Sutrisno menutup pernyataannya dengan ajakan mewujudkan "Indonesia Baru tanpa kebencian, kekerasan, dan pertikaian". (Manaor)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar