![]() |
| Diplomasi Spiritual Global Digaungkan, GMRI Dorong Kesadaran Martabat Manusia dan Perdamaian Dunia (Foto: Jacob) |
INDOSATU.ID - Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) menggulirkan gagasan diplomasi spiritual global untuk membangun kesadaran dan pemahaman tentang harkat dan martabat manusia di bumi.
Gagasan tersebut mengemuka dalam kunjungan balasan sahabat dan kerabat GMRI ke kediaman Asep Saefulloh, General Affairs Official World Peace Committee Indonesia, di Bogor, Kamis (12/2/2026) lalu.
Dalam pertemuan itu, sejumlah isu strategis dibahas, mulai dari filosofi “jangka jongko ning jagat”, gaung “Gong Perdamaian Dunia”, hingga wacana peradaban Lemuria.
Namun, fokus utama diskusi mengerucut pada rencana program kunjungan GMRI ke berbagai negara guna membumikan gerakan kesadaran spiritual melalui pendekatan diplomasi berbasis nilai-nilai universal.
Baca Juga: Miris!! Anak-anak di Labuhanbatu ini Berjalan di Atas Lumpur Demi Menuntut Ilmu ke Sekolah
Asep Saefulloh menyampaikan, diplomasi spiritual yang diusung GMRI menargetkan capaian minimal “One Order New”, sebuah pesan utama tentang urgensi kesadaran spiritual demi perdamaian dunia.
Menurut dia, gagasan tersebut telah mendapat respons positif dari jejaring spiritual di India.
Konsep “One Order New”, kata Asep, terinspirasi dari salah satu doa dalam “Kitab MA HA IS MA YA”, karya Sri Eko Sriyanto Galgendu, yang disebut sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara.
Narasi spiritual itu lahir dari prosesi spiritual yang digelar pada 2–3 Agustus 2025 di Auditorium Kantor Berita Antara, Jakarta.
Ia menjelaskan, “One Order New” dimaknai sebagai satu pesan sentral yang menempatkan kesadaran spiritual sebagai fondasi utama membangun tatanan dunia yang damai.
Diplomasi spiritual global, lanjutnya, menjadi instrumen untuk memperdalam pemahaman relasi antara manusia, alam, dan Tuhan.
GMRI berpendapat bahwa pendekatan tersebut juga menekankan pengakuan terhadap kekuatan spiritual yang lebih tinggi dalam memahami dan menghormati tatanan alam semesta sebagai ciptaan Tuhan.
Di dalam konteks itu, nilai sunnatullah dipahami sebagai upaya menyelami hukum alam dan prinsip spiritual yang mengatur kehidupan manusia dan jagat raya, sejalan dengan semangat rahmatan lil alamin.
Pada kesempatan diskusi ini juga menyinggung konsep energi spiritual dalam diri manusia melalui tujuh cakra, yakni muladhara (keamanan dan stabilitas), svadhisthana (kreativitas dan emosi), manipura (kekuatan dan kepercayaan diri), anahata (cinta dan kasih sayang), vishuddha (komunikasi dan ekspresi), ajna (intuisi dan kesadaran), serta sahasrara (kesadaran spiritual dan kesatuan dengan Tuhan).
Sudut pandang tersebut menekankan pentingnya keseimbangan spiritual sebagai dasar pembentukan etika, moral, dan akhlak manusia.
Di forum itu juga mengemuka pandangan bahwa spiritualitas bangsa Timur cenderung berorientasi ke dalam (inner oriented), sementara spiritualitas Barat lebih berorientasi ke luar (outer oriented), sehingga keduanya dinilai dapat saling melengkapi.
Secara keseluruhan, diplomasi spiritual global yang diinisiasi GMRI diarahkan untuk membangun jejaring persahabatan lintas bangsa tanpa sekat agama maupun kepercayaan.
Gerakan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya spiritualitas sebagai pilar kehidupan bersama, serta mendorong terwujudnya perdamaian dunia yang harmonis dan berkeadaban.
Pewarta: Jacob Ereste
Editor: Manaor





