-->
  • Jelajahi

    Copyright © Media Indosatu - Menuju Indonesia Maju
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Bulan Ramadhan Yang Penuh Berkah | Penulis: Jacob Ereste

    Redaksi
    16 Februari 2026, 07:55 WIB Last Updated 2026-02-16T00:55:00Z
    Banner IDwebhost

    Foto: Jacob Ereste

    Banten, 14 Februari 2026
    Penulis: Jacob Ereste

    Puasa menjadi wajib pada bulan Rsmadhan bagi unat Islam karena merupakan perintah Allah SWT seperti yang tersurat dalam Al Qur'an surah Al Bawarah ayat 183. Surah Al Baqarah (Sapi Betina) itu sendiri adalah surah yang sangat penting dan sangat besar manfaatnya karena mengingatkan kepada umat Islam pentingnya keimanan dan ketaqwaan, keharusan berbuat baik dan beramal sholeh.

    Mengendalikan hawa nafsu, kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan berbagai rintangan hidup. Karena itu, bagi umat Islam yang berhalangan menjalankan ibadhah puasa pada bulan ramadhan wajib untuk melakukan qada' (mengganti puasa pada bulan ramadhan yang wajib itu) dengan puasa pada saatnya telah mampu melakukan puasa penggantinya.

    Kewajiban untuk menggantikan puasa wajib pada bulan ramadhan yang tidak dilakukan ini, jelas menekankan pada kewajiban berpuasa pada bulan ramadhan yang sifatnya wajib itu, sebagai bagian dari rukun Islam yang harus ditaati seperti rukun Islam lainnya, yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa dan menunaikan ibadah haji ke tanah suci, Mekkah.


    Yang menarik dalam rangkaian ibadah puasa itu, meliputi nilai-nilai sosial, tidak hanya berdimensi spiritual semata seperti kewajiban berzakat kepada fakir miskin, anak yatim piatu serta orang-orang yang terlilit hutang karena himpitan ekonomi. Nilai-nilai sosial yang berdimensi spiritual inilah agaknya yang menjadi salah satu kekuatan umat Islam untuk dikelola lebih baik memperkuat sikap mandiri dan peran.

    Selain itu, umat Islam dalam berbagai segi penghidupan, politik, ekonomi, sosial dan budaya hingga kekuatan spiritual bila dikelola dengan baik menjadi energi di semua sektor dalam kualitas dan kuantitas yang maha dakhsyat. Tapi masalahnya bagi umat Islam harus bersatu, kompak, mampu mengatasi masalah friksi dan adu domba dari pihak lain.

    Kecuali itu, kesadaran umat Islam sendiri untuk membangun tatanan pergaulan yang harmoni dengan umat beragama non Islam harus dibangun serta dijaga, sebab umat Islam harus meyakini bahwa hidup di dunia ini tidak mungkin bisa hidup sendiri.


    Agaknya, inilah hikmah dari esensi ibadah puasa, tidak hanya pada bulan Ramadhan, tapi juga dalam berbagai ibadah puasa pada waktu dan kesepatan yang lain. Seperti puasa Arafah pada setiap tanggal 9 Dzukhijah, puasa Asyura, puasa Senin-Kamis, puasa 3 hari setiap bulan pada tanggal 13, 14 dan 25 setiap bulan Hijriyah.

    Juga ada puasa Syawal 6 hari, puasa Rajab, puasa Sya'ban. Begitu juga dengan puasa sunnah lainnya, seperti puasa Nabi Daud, puasa Tasu'a pada setiap tanggal 9 Muharram, puasa Yaum al-Bid psda setiap tanggal 13, 14 dan 15 Hijriyah.

    Puasa sunnah yang tidak wajib ini sifatnya dapat dilakukan jika tidak mengganggu kewajibab lainnya. Karena itu, untuk suami dan istri yang hendak melakukan puasa sunnah wajib untuk saling memberitahukan antara yang satu dengan yang lain, agar tidak ada diantaranya yang merasa keberatan, ketika haknya tidak bisa dipenuhi atau terhalangi agar tidak sampai merasa diabaikan.


    Jadi begitulah bobot puasa wajib maupun puasa sunnah, sehingga diyakini sangat penting dan perlu dilakukan dengan penuh kesadaran, keiklasan bahkan kegembiraan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas keimanan, keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada diri sendiri yang senantiasa berada dalam perlindungan dan penjagaan dari Tuhan. Tidak hanya dari ancaman, tapi juga godaan dan provoksi dari para syaitan fan iblis.

    Suasana puasa terutama para bulan ramadhan memang terasa sakral dan menebarkan suasana spiritual, terutama semasa kecil dahulu di kampung yang dilaksanakan dengan serangkaian upacara semi ritual, padosan jika di Jawa dan membuat makanan yang khas hingga minuman segar yang mengasyikkan.

    Dan yang agak aneh serta unik adanya buah Timun Suri, seakan-akan hanya musim panen pada waktu bulan puasa ramadhan semata. Padahal, buah segar yang khas ini bisa saja ditanam pada bulan lain, tidak hanya pada bulan ramadan.


    Sajian menu untuk berbuka puasa pada bulan ramadhan pun jadi terkesan sangat indah dan khas. Penjual beragam makanan yang langka pun dijajakan. Mulai dari kolak pisang hingga kolak buah duren, lemang, bajigur dan bandrek terpajang di sepanjang jalan, seakan-akan sedang parade unjuk keunggulan seleranya masing-masing.

    Suasana puasa yang penuh kegembiraan ini pun tidak kalah saat makan sahur menjelang sholat subuh berjamaan. Tentu saja setelah berbuka puasa tadi dilanjutkan dengan sholat magrib yang berlanjut dengan sholat tarawih.

    Pada dasarnya sholat tarawih yang menggenapi rukun puasa pada bulan ramadhan setelah sholat isha, hukumnya sunnah yang dapat diartikan dalam suasana santai, istirahat. Namun biasanya di setiap masigit atau surau juga menyediakan makanan dan minuman untuk berbuka puasa.


    Pada saat serupa inilah, suasana bagi kawula muda semakin lebih akrab dengan nuansa keagamaan. Sehingga masigit atau surau tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, tapi juga menjadi tempat pertemuan, sosialisasi dan interaksi sesama jamaah yang datang dan singgah dari berbagai tempat dan daerah.

    Begitulah suasana puasa yang indah dan nikmat serta berkesan. Kendati dalam beberapa bagian mungkin sudah tidak lagi ada, terutama dalam masyarakat perkotaan, meskipun tradisi nyatdran, ziarah kubur pada saat menjelang puasa ramadhan masih cukup banyak dilakukan bersama setiap keluarga.

    Dan penentuan waktu mulai memasuki bulan ramadhan yang acap berbeda dalam suatu komunitas umat Islam yang cukup banyak menebar di berbagai tempat dan daerah, bisa diterima dalam pengertian keseriusan untuk menentukan waktu puasa pada bulan ramadhan yang diyakini paling tepat.


    Bisa saja perhitungan jatuhnya saat puasa pada bulan ramadhan dilakukan berdasarkan ruhyatul hilal dengan melakukan pengamatan langsung terhadap penampakan pada bulan berbentuk sabit saat terbenam. Tapi juga bisa berdasarkan perhitungan astronomi yang mengacu pada ilmu dan pengetahuan ilmiah.

    Pada dasarnya bulan ramadhan diyakini sebagai bulan terbaik dari seribu bulan, bukan saja ditandai oleh banyak orang yang melakukan sedekah, memberi makan dan pakaian serta peralatan ibadah hingga santunan. Bahkan mewakafkan harta dan benda dalam berbagai bentuk untuk lebih menyenangkan serta menggembirakan hati orang lain, tetapi juga memberi manfaat dalam memperbaiki diri dan jiwa serta batin dalam menjaga fitrah kemuliaan sebagai khalifatullah wakil Tuhan di bumi.


    [Penulis adalah tokoh masyarakat sekaligus pengamat sosial]
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close
    Banner iklan disini